Langsung ke konten utama

Pendaftaran Penyuluhan PIRT

Pada hari Jumat, 28 April 2017 lalu, saya mengunjungi Kantor Walikota dan Dinas Kesehatan Jakarta Barat dalam rangka untuk meminta informasi dan mendaftarkan diri menjadi peserta penyuluhan PIRT. Sesampainya disana, saya bertemu dengan salah satu pegawai yang bertugas untuk mengurus perizinan PIRT kemudian saya pun bertanya-tanya mengenai pengadaan penyuluhan dan cara mengurus perizinan PIRT. Berikut adalah beberapa informasi yang saya dapatkan dari percakapan kami.
  1. Pelaksanaan penyuluhan PIRT di setiap wilayah berbeda-beda, khusus di Jakarta Barat, penyuluhan diadakan sebanyak 4 kali dalam 1 tahun.
  2. Beberapa syarat yang perlu dibawa saat mengikuti penyuluhan adalah fotokopi KTP, surat domisili, dan contoh produk yang sudah dikemas dengan baik.
  3. Keikutsertaan dalam penyuluhan ini tidak dipungut biaya sepeser pun (gratis).
  4. Penyuluhan berjalan selama 2 (dua) hari berturut-turut, disertai ujian/evaluasi setelah penyuluhan. Jika hasil ujian memenuhi standar, maka sertifikat peserta penyuluhan dapat dikeluarkan.
  5. Peserta akan diminta untuk mengisi data berupa nama, nomor telepon yang dapat dihubungi, dan mencantumkan kategori pangan dari produk yang akan diproduksi.
Nah, sekian dulu post mengenai pendaftaran penyuluhan PIRT ini, ya. See you in the next post!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesian Local Food (part 7)

Banten   Provinsi Banten yang ber ibu kota Serang terletak di Pulau Jawa memiliki salah satu jajanan khas yang nikmat, yaitu sate bandeng. Sumber: Harian Depok, 2015 Sate bandeng adalah perpaduan antara daging ikan bandeng dan berbagai bumbu yang ditusuk dengan bambu dan dibungkus dengan daun pisang seperti pepes ikan. Terdapat dua jenis sate bandeng, yaitu sate bandeng santan kental dan sate bandeng serundeng kelapa. Sate bandeng santan kental menjadi makanan khas Kerajaan Banten pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, sedangkan sate bandeng serundeng kelapa lebih sering ditemukan pada hari raya Lebaran. Bagi gadis yang belum menikah, yang bisa membuat makanan ini akan dianggap senang oleh calon mertua karena proses pembuatan hidangan ini cukup rumit. Ikan bandeng memiliki banyak duri yang tertanam pada dagingnya dan perlu dibuang agar ikan dapat dimakan. Pada abad ke-16, juru masak Kerajaan Belanda bingung bagaimana cara mengurangi duri pada ikan bandeng agar d...

Indonesian Local Food (part 6)

DKI Jakarta   Provinsi DKI Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa, menjadi ibu kota Republik Indonesia.  Salah satu kuliner khas dari Jakarta adalah minuman bir pletok. Sumber: Majalah Kartini, 2016 Bir pletok adalah minuman khas Betawi merupakan kombinasi berbagai rempah yang direbus menjadi satu. Bahan-bahan dalam bir pletok terdiri dari cengkeh, jahe, jinten, daun pandan, sereh, kapulaga, dan kayu secang. Bir pletok adalah wine tiruan masyarakat Betawi yang tidak memiliki alkohol di dalamnya. Awalnya, masyarakat Belanda yang datang ke Jakarta sering mengadakan pesta yang tidak lepas dari minuman keras. Masyarakat Betawi yang mayoritas beragama Islam merasa risih terhadap kebiasaan orang Belanda yang gemar meminum minuman keras dan juga merasa iri karena tidak dapat meminum minuman keras. Oleh karena itu, masyarakat Betawi membuat minuman dengan warna yang menyerupai minuman keras namun tidak mengandung alkohol, yaitu bir pletok. Kata "pletok" send...

Indonesian Local Food (part 15)

Sulawesi Selatan   Provinsi Sulawesi Selatan adalah salah satu provinsi yang terletak di bagian selatan Pulau Sulawesi, beribu kota Makassar. Makanan lokal dari Makassar yang telah banyak dikenal masyarakat adalah coto Makassar. Sumber: Liputan6, 2016 Coto Makassar adalah hidangan seperti soto yang berkuah santan dengan jeroan, disantap sebagai lauk pendamping nasi atau ketupat. Awalnya, salah satu juru masak di Kerajaan Bareng melihat isi perut kerbau yang tidak digunakan kemudian ia memiliki ide untuk mencampurkan berbagai rempah dengan isi perut kerbau lalu dimasak menggunakan air beras dan diberi kacang. Makanan tersebut kemudian dibagikan pada masyarakat, dan ternyata masyarakat menyukainya sehingga juru masak pun menyajikannya pada raja. Bagian isi perut kerbau tidak dapat digantikan dengan isi perut hewan lainnya, karena isi perut kerbau memiliki aroma yang khas.