Langsung ke konten utama

Indonesian Local Food (part 1)


Nanggro Aceh Darussalam 


Provinsi Nanggro Aceh Darussalam adalah salah satu provinsi yang terletak di Pulau Sumatera. Ibu kota dari provinsi ini adalah Kota Banda Aceh. Salah  satu makanan khas dari Aceh adalah kue timphan.
Sumber: Tempo.co, 2015

Kue timphan adalah kue khas lebaran dan Idul Adha yang terbuat dari tepung ketan dan pisang, diberi isi, dan berbalut daun pisang muda. Kue timphan biasanya dibuat 1 atau 2 hari menjelang lebaran dan disajikan pada hari raya lebaran atau Idul Adha untuk tamu yang berkunjung ke rumah. Isi kue timphan dapat berupa pisang, parutan kelapa, atau srikaya, tergantung selera setiap orang. Makanan ini dapat disimpan selama kurang lebih 1 minggu lamanya. Jenis pisang yang digunakan pada pembuatan kue timphan adalah pisang raja karena memiliki tekstur yang lembut dan aroma yang khas. Tepung ketan dan pisang dicampur hingga membentuk adonan yang dapat digulung, diberi isi, dibungkus daun pisang muda, lalu dikukus hingga matang.

Kue timphan merupakan makanan warisan nenek moyang terdahulu di Aceh. Kue ini memiliki peribahasa, yaitu:
Uroe get buluen get, timphan ma peugoet beumeuteme rasa
artinya, "hari baik bulan baik, timphan buatan ibu harus dapat ku rasakan". Hari baik dan bulan baik yang dimaksud adalah saat Idul Fitri, kerinduan akan timphan buatan orang tua menjadi sesuatu yang selalu diingat oleh warga Aceh di hari suci.

Sumatera Utara 

Provinsi Sumatera Utara adalah salah satu provinsi yang terletak di Pulau Sumatera, Indonesia.  Provinsi Sumatera Utara memiliki ibu kota Medan yang terkenal akan berbagai makanan khas, salah satunya adalah kidu-kidu.
Sumber: Femina, 2015
Kidu-kidu adalah sosis khas dari salah satu daerah di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten Karo. Kidu-kidu adalah daging babi cincang yang telah diolah dan dimasukkan ke usus babi sehingga terlihat seperti sosis, direbus kemudian dipanggang di atas bara api. Makanan ini dijadikan lauk utama pendamping nasi. Masyarakat Karo memiliki berbagai upacara peringatan, seperti perkawinan, kemalangan, hingga memasuki rumah adat. Kidu-kidu biasanya terdapat pada upacara peringatan dan disajikan untuk objek dan pendukung upacara. Makanan kidu-kidu juga dijadikan sarana pengikat janji pada upacara perdamaian.

Menurut masyarakat Karo, kidu-kidu berbahan utama daging babi yang artinya makanan yang dapat dimakan dan tidak dipantangkan. Masyarakat Karo menganggap daging babi dapat dimakan jika diterima mulut dan perut, diolah, dan bermanfaat bagi tubuh, serta tidak dianggap pantang karena kebanyakan masyarakat Karo menganut agama Kristen yang tidak melarang daging babi. Pembuatan kidu-kidu membutuhkan waktu dan proses yang panjang, mulai dari pembersihan isi usus babi, penumisan daging untuk dimasukkan ke usus babi, hingga pemanggangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesian Local Food (part 7)

Banten   Provinsi Banten yang ber ibu kota Serang terletak di Pulau Jawa memiliki salah satu jajanan khas yang nikmat, yaitu sate bandeng. Sumber: Harian Depok, 2015 Sate bandeng adalah perpaduan antara daging ikan bandeng dan berbagai bumbu yang ditusuk dengan bambu dan dibungkus dengan daun pisang seperti pepes ikan. Terdapat dua jenis sate bandeng, yaitu sate bandeng santan kental dan sate bandeng serundeng kelapa. Sate bandeng santan kental menjadi makanan khas Kerajaan Banten pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, sedangkan sate bandeng serundeng kelapa lebih sering ditemukan pada hari raya Lebaran. Bagi gadis yang belum menikah, yang bisa membuat makanan ini akan dianggap senang oleh calon mertua karena proses pembuatan hidangan ini cukup rumit. Ikan bandeng memiliki banyak duri yang tertanam pada dagingnya dan perlu dibuang agar ikan dapat dimakan. Pada abad ke-16, juru masak Kerajaan Belanda bingung bagaimana cara mengurangi duri pada ikan bandeng agar d...

Indonesian Local Food (part 6)

DKI Jakarta   Provinsi DKI Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa, menjadi ibu kota Republik Indonesia.  Salah satu kuliner khas dari Jakarta adalah minuman bir pletok. Sumber: Majalah Kartini, 2016 Bir pletok adalah minuman khas Betawi merupakan kombinasi berbagai rempah yang direbus menjadi satu. Bahan-bahan dalam bir pletok terdiri dari cengkeh, jahe, jinten, daun pandan, sereh, kapulaga, dan kayu secang. Bir pletok adalah wine tiruan masyarakat Betawi yang tidak memiliki alkohol di dalamnya. Awalnya, masyarakat Belanda yang datang ke Jakarta sering mengadakan pesta yang tidak lepas dari minuman keras. Masyarakat Betawi yang mayoritas beragama Islam merasa risih terhadap kebiasaan orang Belanda yang gemar meminum minuman keras dan juga merasa iri karena tidak dapat meminum minuman keras. Oleh karena itu, masyarakat Betawi membuat minuman dengan warna yang menyerupai minuman keras namun tidak mengandung alkohol, yaitu bir pletok. Kata "pletok" send...

Indonesian Local Food (part 15)

Sulawesi Selatan   Provinsi Sulawesi Selatan adalah salah satu provinsi yang terletak di bagian selatan Pulau Sulawesi, beribu kota Makassar. Makanan lokal dari Makassar yang telah banyak dikenal masyarakat adalah coto Makassar. Sumber: Liputan6, 2016 Coto Makassar adalah hidangan seperti soto yang berkuah santan dengan jeroan, disantap sebagai lauk pendamping nasi atau ketupat. Awalnya, salah satu juru masak di Kerajaan Bareng melihat isi perut kerbau yang tidak digunakan kemudian ia memiliki ide untuk mencampurkan berbagai rempah dengan isi perut kerbau lalu dimasak menggunakan air beras dan diberi kacang. Makanan tersebut kemudian dibagikan pada masyarakat, dan ternyata masyarakat menyukainya sehingga juru masak pun menyajikannya pada raja. Bagian isi perut kerbau tidak dapat digantikan dengan isi perut hewan lainnya, karena isi perut kerbau memiliki aroma yang khas.