Langsung ke konten utama

Indonesian Local Food (part 14)

Sulawesi Tengah 

Provinsi Sulawesi Tengah terletak di Pulau Sulawesi dengan ibu kota Palu. Salah satu makanan yang terkenal dari provinsi ini adalah kaledo.
Kaledo, Makanan Khas Palu
Sumber: Pramuka Pos, 2017
Kaledo merupakan singkatan dari "kaki lembu Donggala", mirip dengan sup buntut, namun bedanya hidangan ini menyajikan tulang kaki sapi dengan kuah bening ditemani dengan ubi rebus sebagai pengganti nasi. Konon, Lembah Palu merupakan lahan yang subur serta banyak hewan yang tumbuh disana , termasuk sapi atau lembu. Berbagai bagian sapi diolah menjadi masakan, dan bagian tulang kaki sapi diolah menjadi kaledo. Makanan ini disajikan pada acara kehormatan dari para raja di Lembah Palu untuk tamu-tamu kehormatan.
Sulawesi Tenggara 

Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan salah satu provinsi di Pulau Sulawesi yang beribu kota Kendari. Sinonggi adalah salah satu makanan yang terkenal di daerah ini.
Sumber: Kompasiana, 2013
Sinonggi adalah makanan yang terbuat dari sari pati sagu disajikan bersama lauk berkuah. Sekilas dilihat, sinonggi mirip dengan hampir sama dengan papeda, dari Papua, namun yang berbeda dari sinonggi adalah cara penyajiannya. Sinonggi telah dinikmati oleh masyarakat suku Tolaki sejak ratusan tahun lalu lalu diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini. Kata "sinonggi" sendiri berasal dari bahasa suku Tolaki, yaitu "posonggi", artinya alat untuk mengambil makanan yang menyerupai sumpit dan terbuat dari bambu. Dengan alat tersebut, sinonggi diambil dengan cara digulung lalu dipindahkan ke piring untuk dimakan bersama lauk lainnya. Sinonggi adalah makanan sekunder pengganti beras pada masa paceklik bagi masyarakat Tolaki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesian Local Food (part 7)

Banten   Provinsi Banten yang ber ibu kota Serang terletak di Pulau Jawa memiliki salah satu jajanan khas yang nikmat, yaitu sate bandeng. Sumber: Harian Depok, 2015 Sate bandeng adalah perpaduan antara daging ikan bandeng dan berbagai bumbu yang ditusuk dengan bambu dan dibungkus dengan daun pisang seperti pepes ikan. Terdapat dua jenis sate bandeng, yaitu sate bandeng santan kental dan sate bandeng serundeng kelapa. Sate bandeng santan kental menjadi makanan khas Kerajaan Banten pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, sedangkan sate bandeng serundeng kelapa lebih sering ditemukan pada hari raya Lebaran. Bagi gadis yang belum menikah, yang bisa membuat makanan ini akan dianggap senang oleh calon mertua karena proses pembuatan hidangan ini cukup rumit. Ikan bandeng memiliki banyak duri yang tertanam pada dagingnya dan perlu dibuang agar ikan dapat dimakan. Pada abad ke-16, juru masak Kerajaan Belanda bingung bagaimana cara mengurangi duri pada ikan bandeng agar d...

Indonesian Local Food (part 6)

DKI Jakarta   Provinsi DKI Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa, menjadi ibu kota Republik Indonesia.  Salah satu kuliner khas dari Jakarta adalah minuman bir pletok. Sumber: Majalah Kartini, 2016 Bir pletok adalah minuman khas Betawi merupakan kombinasi berbagai rempah yang direbus menjadi satu. Bahan-bahan dalam bir pletok terdiri dari cengkeh, jahe, jinten, daun pandan, sereh, kapulaga, dan kayu secang. Bir pletok adalah wine tiruan masyarakat Betawi yang tidak memiliki alkohol di dalamnya. Awalnya, masyarakat Belanda yang datang ke Jakarta sering mengadakan pesta yang tidak lepas dari minuman keras. Masyarakat Betawi yang mayoritas beragama Islam merasa risih terhadap kebiasaan orang Belanda yang gemar meminum minuman keras dan juga merasa iri karena tidak dapat meminum minuman keras. Oleh karena itu, masyarakat Betawi membuat minuman dengan warna yang menyerupai minuman keras namun tidak mengandung alkohol, yaitu bir pletok. Kata "pletok" send...

Indonesian Local Food (part 15)

Sulawesi Selatan   Provinsi Sulawesi Selatan adalah salah satu provinsi yang terletak di bagian selatan Pulau Sulawesi, beribu kota Makassar. Makanan lokal dari Makassar yang telah banyak dikenal masyarakat adalah coto Makassar. Sumber: Liputan6, 2016 Coto Makassar adalah hidangan seperti soto yang berkuah santan dengan jeroan, disantap sebagai lauk pendamping nasi atau ketupat. Awalnya, salah satu juru masak di Kerajaan Bareng melihat isi perut kerbau yang tidak digunakan kemudian ia memiliki ide untuk mencampurkan berbagai rempah dengan isi perut kerbau lalu dimasak menggunakan air beras dan diberi kacang. Makanan tersebut kemudian dibagikan pada masyarakat, dan ternyata masyarakat menyukainya sehingga juru masak pun menyajikannya pada raja. Bagian isi perut kerbau tidak dapat digantikan dengan isi perut hewan lainnya, karena isi perut kerbau memiliki aroma yang khas.