Langsung ke konten utama

Indonesian Local Food (part 8)

Daerah Istimewa Yogyakarta 

Provinsi DI Yogyakarta tentunya terkenal akan salah satu makanan khasnya, yaitu gudeg.
Sumber: Tribun Travel, 2017
Gudeg atau gudheg dalam bahasa Jawa merupakan makanan yang berbahan dasar nangka muda yang dimasak dengan santan dan memiliki rasa yang manis. Gudeg dapat dimakan bersama nasi atau bubur, disajikan bersama santan, telur, ayam kampung, tempe atau tahu bacem, dan sambal krecek. Terdapat dua jenis gudeg, yaitu gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg basah dimasak dengan santan yang banyak sehingga berair atau basah, sedangkan gudeg kering dimasak dengan sedikit santan sehingga tidak terlalu basah.

Sekitar tahun 1500-an, hutan Mentaok di daerah Yogyakarta banyak ditumbuhi pohon nangka, kelapa, dan melinjo. Saat pembangunan Kerajaan Mataram, pepohonan di alas Mentaok banyak yang ditebang, termasuk pohon nangka, kelapa, dan melinjo. Akhirnya, para prajurit Mataram mengolah bahan tersebut menjadi makanan yang kini dikenal oleh banyak kalangan masyarakat.
Jawa Timur 

Provinsi Jawa Timur terletak di Pulau Jawa bagian timur, beribu kota Surabaya. Salah satu makanan khas yang terkenal dari provinsi ini adalah lontong balap.
Sumber: Kompas, 2016
Lontong balap berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Sajian lontong berkuah biasanya dihidangkan bersama tauge, tahu, dan lentho (perkedel yang terbuat dari kacang kedelai), juga dapat dimakan bersama sate kerang dan sambal petis. Dahulu, kuliner ini dijual dalam gentong-gentong yang berat dan penjual harus memikul gentong tersebut sambil berjalan ke kota-kota untuk dijual. Penjual harus melangkah cepat karena gentong yang dibawa berat, maka dianggap seperti balapan. Oleh karena itu, kuliner ini disebut lontong balap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesian Local Food (part 7)

Banten   Provinsi Banten yang ber ibu kota Serang terletak di Pulau Jawa memiliki salah satu jajanan khas yang nikmat, yaitu sate bandeng. Sumber: Harian Depok, 2015 Sate bandeng adalah perpaduan antara daging ikan bandeng dan berbagai bumbu yang ditusuk dengan bambu dan dibungkus dengan daun pisang seperti pepes ikan. Terdapat dua jenis sate bandeng, yaitu sate bandeng santan kental dan sate bandeng serundeng kelapa. Sate bandeng santan kental menjadi makanan khas Kerajaan Banten pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, sedangkan sate bandeng serundeng kelapa lebih sering ditemukan pada hari raya Lebaran. Bagi gadis yang belum menikah, yang bisa membuat makanan ini akan dianggap senang oleh calon mertua karena proses pembuatan hidangan ini cukup rumit. Ikan bandeng memiliki banyak duri yang tertanam pada dagingnya dan perlu dibuang agar ikan dapat dimakan. Pada abad ke-16, juru masak Kerajaan Belanda bingung bagaimana cara mengurangi duri pada ikan bandeng agar d...

Indonesian Local Food (part 6)

DKI Jakarta   Provinsi DKI Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa, menjadi ibu kota Republik Indonesia.  Salah satu kuliner khas dari Jakarta adalah minuman bir pletok. Sumber: Majalah Kartini, 2016 Bir pletok adalah minuman khas Betawi merupakan kombinasi berbagai rempah yang direbus menjadi satu. Bahan-bahan dalam bir pletok terdiri dari cengkeh, jahe, jinten, daun pandan, sereh, kapulaga, dan kayu secang. Bir pletok adalah wine tiruan masyarakat Betawi yang tidak memiliki alkohol di dalamnya. Awalnya, masyarakat Belanda yang datang ke Jakarta sering mengadakan pesta yang tidak lepas dari minuman keras. Masyarakat Betawi yang mayoritas beragama Islam merasa risih terhadap kebiasaan orang Belanda yang gemar meminum minuman keras dan juga merasa iri karena tidak dapat meminum minuman keras. Oleh karena itu, masyarakat Betawi membuat minuman dengan warna yang menyerupai minuman keras namun tidak mengandung alkohol, yaitu bir pletok. Kata "pletok" send...

Indonesian Local Food (part 15)

Sulawesi Selatan   Provinsi Sulawesi Selatan adalah salah satu provinsi yang terletak di bagian selatan Pulau Sulawesi, beribu kota Makassar. Makanan lokal dari Makassar yang telah banyak dikenal masyarakat adalah coto Makassar. Sumber: Liputan6, 2016 Coto Makassar adalah hidangan seperti soto yang berkuah santan dengan jeroan, disantap sebagai lauk pendamping nasi atau ketupat. Awalnya, salah satu juru masak di Kerajaan Bareng melihat isi perut kerbau yang tidak digunakan kemudian ia memiliki ide untuk mencampurkan berbagai rempah dengan isi perut kerbau lalu dimasak menggunakan air beras dan diberi kacang. Makanan tersebut kemudian dibagikan pada masyarakat, dan ternyata masyarakat menyukainya sehingga juru masak pun menyajikannya pada raja. Bagian isi perut kerbau tidak dapat digantikan dengan isi perut hewan lainnya, karena isi perut kerbau memiliki aroma yang khas.